Pages

Wednesday, March 25, 2009

18 March 2009 - The Evil of Desire

Semakin jauh rasanya dari hari ‘peluncuran album’ di Januari, dan semakin dekat rasanya kepada hari dimana saya akan gulung tikar, menurunkan gorden, dan menutup perjalanan panjang Raygava et al ini. Memang sih, itu masih akan terjadi di bulan Juni, namun semua terasa semakin dekat. Saya pun sudah memahami bahwa apabila saya harus berdamai dengan sesuatu, sesuatu itu adalah diri saya sendiri.

Kebetulan baru saja saya melihat acara televisi berjudul Tribe di Discovery channel. Acaranya sedang membahas kunjungannya ke tribe di Tibet. Walau tidak memperhatikan dari awal, disini pembawa acara menunjukkan dengan jelas ambisi dia untuk bisa mendaki Everest ke sebuah lokasi tertentu yg termasuk cukup tinggi untuk orang awam. Sebelum ditampilkan perjalanan dia mendaki gunung selama berhari-hari itu, dalam narasinya, ia mengungkit bagaimana Buddha sering mengajarkan bagi umat manusia untuk bisa ‘menahan’ desire-nya, dikatakan karena desire itu akan membawa evil. Karena desire dapat menimbulkan rasa sakit, kecewa, dan perasaan-perasaan lain yang serupa. Maka itulah dilakukan meditasi, sebuah usaha untuk meredam desire tersebut.

Perjalanan yang dilakukan pembawa acara Tribe ini cukup sulit, mengingat salju menumpuk sangat tinggi; dengan kata lain, ia datang dan mencoba mendaki di musim yang salah. Berhari-hari sudah si pembawa acara ini memaksa untuk bisa terus maju walau dalam kondisi alam yang tidak memungkinkan. Begitu tebal saljunya persis sekali dengan kondisi yang tergambarkan di komik Tintin in Tibet. Hingga suatu hari dimana tidak ada jalan lain selain kembali. Kawanan Yak pembawa barang-barang sudah tidak mampu lagi mendaki tebing yang curam dan bersalju, sehingga mau tidak mau seluruh tim harus pasrah dan kembali. Disitulah lalu dia menceritakan bagaimana dia sungguh kecewa dengan apa yang menimpanya. Sudah berbulan-bulan lamanya dia memimpikan akan mampu mendaki Everest ini. Dan dia tahu bahwa dia mampu, dia tidak pernah gagal dalam tantangan-tantangan fisik. Namun disini, pada akhirnya bukanlah kemampuan fisiknya yang akhirnya membuyarkan impiannya. Pada saat sebelum berputar turun gunung itulah dia lalu bercerita kepada pemirsa, bagaimana akhirnya dia mengerti apa yang dimaksud Buddha. Keinginan besarnya untuk mendaki gunung Everest inilah yang membuat dirinya buta dan terus memaksa sepanjang perjalanan, disaat para sherpa menyarankan untuk kembali karena misi ini cukup mustahil dalam kondisi alam yang demikian. Dan sekarang ia mengerti bagaimana sebuah desire bisa berakibat fatal, karena dapat menimbulkan rasa sakit, kecewa, dan frustrasi.

Sebuah tontonan yang inspirational sehingga mampu membuat saya bergegas menuju ke laptop saya ini dan menulis tulisan ini. Saya pun langsung mengerti bagaimana semua ini terjadi, dan hikmah apa yang harus saya ambil terkait dengan perjalanan saya ini.

Raygava et al tidak pernah sebelumnya menjadi sebuah desire yang demikian besar. Saya masih ingat pertama kali saya berencana kembali dari London waktu masih di tahun 2005-2006. Waktu itu saya membayangkan bahwa di Jakarta saya akan bekerja sampai jam 6-7-an lalu jam 9 malam akan bermain untuk sebuah band cafe. Terpikirkah disitu Raygava et al yang saya kenal saat ini? Sama sekali tidak.

Entah mengapa dalam perjalanannya tiba-tiba keinginan untuk ‘mendokumentasikan karya’ Raygava et al ini menjadi demikian besar. Semakin lama semakin menumpuk, dan semakin besar. Dan lalu tahun demi tahun berlalu sehingga seluruh target tiba-tiba berubah. Hingga 2008 akhirnya saya sudah mencapai titik dimana album dari Raygava et al menjadi sebuah blind desire, titik dimana akhirnya saya harus melakukan apapun sebisa mungkin untuk memastikan bahwa album ini berhasil diluncurkan.

Hal inilah yang membuat pengorbanan demi pengorbanan pada akhirnya dilakukan tanpa terasa. Dari mulai pengorbanan-pengorbanan di kehidupan sosial, uang-uang tabungan yang menguap dengan begitu cepat, bahkan terhadap umur yang terus bertambah, semua benar-benar tidak pernah mengganggu pikiran saya. Target saya sudah jelas, dan saya sudah terbutakan untuk bisa memenuhi target tersebut. Seperti pembawa acara Tribe tersebut, Raygava et al pun apabila memang gagal, bukan gagal karena musiknya jelek, melainkan faktor ‘alam’. Tuhan pun telah berulang kali menghambat saya dan menunjukkan kepada saya kondisi ‘alam’ yang seolah menentang desire saya. Tapi saya terus memaksa. Sama seperti dia, saya terus memaksa karena saya tahu kualitas yang saya miliki. Saya percaya Raygava et al adalah musik yang jenius. Seperti halnya si pembawa acara ini yakin akan kemampuan fisiknya. Namun pada akhirnya memang bukan kualitas diri lah yang menentukan. Bagaimanapun kondisi alam tidak diatur oleh diri kita.

Namun, bukan berarti desire saya kemarin ini adalah sebuah dosa. Tidak juga. Karena tujuannya tetap mulia. Ini adalah usaha pendokumentasian karya saya untuk generasi penerus saya, terutama anak dan cucu saya. Sebuah kenang-kenangan yang saya ciptakan terlebih dahulu jauh sebelum mereka ada. Suatu bentuk ‘dokumentasi’ yang akan dengan cepat menjelaskan tentang diri saya, kehidupan saya, dan mudah-mudahan bisa menjadi sebuah memoirs kecil untuk mereka mengerti. Apapun yang terjadi nantinya di akhir perjalanan ini, saya pun berharap akan dapat menjadi pelajaran bagi mereka. Jadi tidak, saya sama sekali tidak boleh merasa menyesal akan desire saya itu. Yang boleh saya rasakan yaitu bahwa sekarang saya sadar kalau saya tidak berhak untuk menuntut apapun dari perjalanan ini. Bahkan menuntut untuk bisa balik modal pun sebenarnya tidak berhak. Sebuah blind desire telah saya puaskan, dan secara bijaksana saya harusnya siap menerima apapun yang menjadi konsekuensinya. Termasuk bahwa Raygava et al akan kandas dan seluruh uang saya dan hutang saya akan lenyap tanpa ada yang kembali. Tuhan akan senantiasa memberi saya pelajaran demi pelajaran, kegagalan demi kegagalan, kekecewaan demi kekecewaan, dan kalau dilihat-lihat anehnya semua jauh lebih banyak dari orang lain pada umumnya. Dan ini adalah sesuatu yang semestinya saya syukuri, bukan saya tangisi.

Note:
1. Tulisan ini merupakan bagian dari rencana saya menyusun tulisan-tulisan inspirational dengan judul FINANCING A DREAM (rencananya). Hal ini pun sudah direncanakan jauh sebelum album raygava et al keluar di pasaran. Mengingat begitu banyaknya buku-buku yg mendokumentasikan keberhasilan, banyak teman-teman saya yg merasa bahwa akan sangat keren malahan apabila buku saya nanti menjadi sebuah tulisan yang mendokumentasikan kegagalan. Rencananya saya ingin mendokumentasikan bagaimana saya berjudi dengan hidup saya, mempertaruhkan segala hal dari mulai tabungan, pekerjaan, sampai hubungan percintaan, semua demi tercapainya sebuah legacy hidup.

2. Album WHERE I BELONG dari RAYGAVA ET AL. masih tersedia di toko-toko. Dan hingga saatnya tiba nanti, saya akan masih terus bergerilya dan melakukan apapun untuk Raygava et al ini..Dan dokumentasi akan perjalanan Raygava et al ini akan terus berlangsung. hehehe

Wednesday, February 11, 2009

09 February 2009 - A Month After

09 February 2009

A month since my official album launching date.

Today was so painful. Since last night, the internet was suspended. I suspect it is because of our 2-month outstanding payments. In the morning I watched Inbox and Dahsyat, and the other new (similar) show at Trans TV. How lucky these people are. From the village-looking rockstar-wannabe bands, that I guess would be from a smaller town somewhere outside Java island, to a group of young city-boys trying to provide the hippest new-jazz tunes for the upper-segment, with their trendy ‘bilingual’ songs. I know how much it costs a new band/artist to get into those highly-overrated shows, and it’s just a sum of money I know I cannot afford. Do these new faces know about this? Or maybe only their rich ‘juragan’ parents (or rich ‘pejabat’ parents)? Do they know how much money their fathers spend only to make their kids be more famous? Do these kids know how does it feel to be like me, who worked long-hours for years only to save it, lend more money, and then use it out for such projects, and yet achieving only a 1/10 of the budget they're getting from their fathers? Do they know how does it feel shifting from a rich Jakarta CBD office workers with the highly-prospective talent in the industry (or so they say), to a poor artist (as in worker of art) with no-job and nothing left in his bank accounts? And the thoughts went on. Well, basically I was envying these people so much.

Later at noon, I walked into a bank to make a payment for my cable TV. I had to deposit the money my father gave me into my account, for it to be transferred later via ATM as the cable payment. And then I saw this teller, next to the one I was speaking to. She was holding a large bundle of Rp50,000 notes. My brain was trying to make a rough judgment on how much that bundle probably worth. Maybe around 50 million. The next bundle that I then saw was of Rp100,000 notes, in similar size. Hmm that should worth more, maybe 100 million. And for that brief second I was actually thinking of robbing the bank, only basically to finance my well-drought marketing campaign. If only I had a gun with me, I thought. And suddenly I remember all the news about those robbers in motorcycles, robbing as ‘little’ as only Rp50 to 100 million rupiahs. Whenever I saw this kind of news in previous years, I have always wondered, why would a group of guy steal only that amount of money? Why not go all the way and plan a large heist, like the recently popular investment-fraud we’re seeing all-over the world?


Now I suddenly understand why. And so in this vision I see myself right there, just like them. On a worn-out motorcycle, with an accomplice, trying to escape the guards and police, with only Rp50 million in the bag I’m holding tight around my arm. With that amount of money, I can hit the Televisions, just like all the other bands/artists normally..... Nahh, but I can never do that. I don’t have the guts and I’m not that desperate. But I’m telling the truth, it did cross my mind for a brief few seconds.

But then later I was inspired by the movie “Vicky Christina Barcelona”. On DVD of course, I could not afford going to the cinemas anymore. It’s another movie done by Woody Allen, and played by, not surprisingly, his recently favourite actress, Scarlett Johansson. In some parts, the movie highlights the artists (again, workers of art) living for the love of life, represented by the character Juan Antonio, his poet father, and even his-ex-wife. The movie shows us that in a certain life at a certain distance from the bustling businesses of New York City, simple elements of life are cherished by certain people. Even so simple that the concept of affection and love (and also sex, for that matter) should not at all be regarded as complicated. The character Vicky, whose life is well organised and carefully planned, and who was on her way to wed the ideal man (or so she thought), found herself secretly longing for a love life with Juan Antonio. And even the free-spirited Christina, who had initially thought she wanted a 'different' love life with an artist, finally found herself not that crazy after all. This movie carries so many messages I think people should see it.


I then started to be thankful. It all just makes sense. Life is wonderful and I love it so much. So why must one dwell on plans and strategies if they only put more pressure, and in the end pulling that person further away from the happiness he seeks. I know I only have Rp2 million left for the next God-knows how many more months. I know that I must be crazy to think that the marketing budget I put for Raygava et al could compete with the budget of others, that are at least 10 folds, each! I know I’m well behind compared to most of my friends who are now ‘enjoying’ their settled life with a wife and a housing mortgage. But I should remember that above all, my mission has been accomplished. I finally have an album, out there, in record stores, and a pretty damn-good one too (if only more people know about it). A fine work that everyone around me is so proud of, and therefore so should my descendants. Even I can’t be prouder that I am now. So if no one buys it, and no one is making any song-request to the radios, should that give me headaches?

The album is a celebration of life. The darkest hours of my life, the pain of love, the torturing home-sick, the painful-dilemmas, and even the passions for love, all were there. Presented in stupid lyrics. Hahaha.. It has been my message to people to live their life to the fullest, even in grim moments. I should always remember that!

And so it came to me that life should be cherished, for it is not all about having enough money to live. Every fresh air I took when I was out there 7 AM in the morning running around the block, every bench-press I made whenever there’s just nothing more to do other than pointless work-out, every ‘pricy’ golf swings in the midst of gloomy sky and singing birds, every DVDs I watched in the mid-day only because the cable TV is suspended due to outstanding payments, every futile effort of running the scales back-and-forth trying to be a better guitar player. Aren’t these elements of good-life? Suddenly it strikes me that I should enjoy myself more. Hmm, maybe I should even go out today? Nahh, not today. But maybe tomorrow. Marketing campaigns? Ahh I should give less shit about it. I’ve been the smallest David ever existed, trying to fight the Goliaths. I think it’s alright if David loses the battle. Rp2 million left? Ahh who cares? You’re not gonna be dead anyway. Some people are even living in the brink of death. I was only jealous I guess; Jealous of all the other bands/artists with their ‘blessed’ budgets. But I know I shouldn’t let it get into my head. I should smile, go out, and while at it, get more creative by finding out more life-enjoying things to do sans d’argent.

Monday, February 02, 2009

13 Radio dalam 3 Hari

13 radio dalam 3 hari. Itulah judul sesi radio visit raygava et al minggu lalu di Bandung.Mau ga ke Bandung? Waahhh seperti ajakan yang bodoh. Tentu saja mau! Udah lama banget sejak terakhir kali gue ke Bandung. Mungkin jauh sampai ke bulan November 2008. Gue pikir2, oke bgt lah, sudah pasti dari satu radio ke radio lain akan menjadi sangat melelahkan dan potensial membosankan. Tapi at least gue akan bisa menghirup udara sejuk Bandung lagi, my second hometown..

Ke-13 radio tersebut adalah: pro-2, Rase, Hard Rock, Garuda, Auto, Oz, Sky, CBL, i-Radio, Ardan, 99ers, Global, dan Prambors.  Dihajar dari hari kamis hingga hari Sabtu. Plus, ditambah hari sabtu mlm disuruh maen di Oh La La Ciwalk.Capeknya memang setengah mati. Tapi sangat fun, dan gue masih bisa menyelipkan sedikit-sedikit waktu untuk hang-out bersama sejumlah geng pertemanan gue di Bandung. Lalu setelah semua selesai, hari minggu kemaren gue akhirnya menyadari kunjungan gue ke Bandung kali ini cukup berhasil dan cukup menyenangkan. Respon-respon radio cukup bagus, baik dari orang-orang radio nya sendiri maupun para pendengar. Manggung hari sabtu juga menjadi cukup seru. Entah kebawa dari perjalanan radio kami atau bukan, yang jelas mempromosikan musik kami dengan bercanda menjadi semakin menyenangkan, termasuk diatas panggung disaat kami memainkan 10 lagu, including 4 lagu cover dari Van Hunt, The Magic Numbers, Jack Johnson, dan Pink Martini… hehehe.

Okeh.. semoga.. semoga.. semoga. *fingers crossed*

Mudah-mudahan kejujuran musik raygava et al masih punya cukup energi dan kekuatan untuk at least menyamakan band-band lain yang jelas-jelas mengucurkan ‘uang-uang’ yang bekali-kali lipat. Bisakah David melawan Goliath-Goliath? Gak perlu mengalahkan kok, sebatas ‘melawan’ saja sudah sebuah prestasi luar biasa. Hehehe.

Respon-respon sudah sedemikian positif. Tinggal bagaimana kita lihat apakah ke-positif-an ini mampu mengalahkan lembaran-lembaran uang yang dikucurkan para goliath. I’ve done my part, now it’s all in the hands of the media and public. I need the airplay from the music directors, and the request from the listeners. Cuma itu harapan yang ada bagi band ‘termiskin’ yang sudah merilis album di industri musik Indonesia saat ini… hehehehe. Tanpa itu semua, kami gak akan pernah bisa masuk Gen FM, ataupun masuk acara Inbox atau Dahsyat. Perlawan terhadap band-band ‘anak-juragan’ dari daerah (yg memiliki budget yang extraordinarily-ridiculous) harus terus dilancarkan, bila industri musik Indonesia ingin diselamatkan.

Friday, January 16, 2009

Hurry To The Future !!

I can't stand it anymore.. please take me away from here...

INTRO : Lifetime Achievement

Bukannya saya gak berterimakasih. Saya sudah tahu karena semua orang pun sudah menyatakan betapa bangga mereka terhadap saya. Saya pun bangga terhadap diri saya. Tetapi there's just something missing...

Saya baru saja melakukan pencapaian yang luarbiasa. A lifetime achievement (of course, my version of it). Setelah bertahun-tahun berjuang, berkutat, dan dengan seluruh tetesan-tetesan darah, akhirnya saya berhasil merilis album perdana raygava et al. Album ini diberi judul "Where I Belong", judul sebuah lagu di track no.3 album ini yang bercerita tentang homesick luar biasa yang saya alami di London tahun 2004.

VERSE : Where I Belong

Mengapa judul ini? Karena semata untuk mengingatkan saya akan dimanakah saya 'belong'. Supaya saya tetap ingat dilema yang saya alami dari mulai oktober 2005 hingga januari 2006, dimana saya harus memutuskan untuk terus bekerja di UK atau pulang kampung ke Jakarta. Hal tersebut, pada saat itu, adalah sebuah dilema terbesar di hidup saya. Walaupun saya seorang Aries sejati, namun sekokoh apapun saya terhadap keputusan saya, bukan berarti saya tidak melewati keguncangan dan dilema besar. Ini adalah salah satu alasan kenapa saya kembali ke Jakarta. Lagu-lagu yang sangat dalam artinya bagi saya, seperti "Tanda-tanda", "Where I Belong", dan "Cara Pergi ke Bandung" adalah masterpiece-masterpiece yang harus di publish. Karena sampai detik ini pun saya sangat yakin saya tidak akan mampu menghasilkan karya seperti itu lagi.

Judul "Where I Belong" akan senantiasa terus mengingatkan saya akan 'misi' saya kembali dari London. Dan juga supaya tidak lupa daratan. Supaya saya ingat siapa saya dahulu. dan juga ingat alasan-alasan dari keputusan yang akhirnya saya ambil. Kehidupan saya sekarang di Indonesia adalah sebuah mimpi indah bagi seorang Regawa di tahun 2004-2005.. ini yang akan selalu saya ingat!

REFF : 3 years later

Tiga tahun sudah berlalu dengan cepat (atau mgkn malah lambat). Saya disini, berhasil mewujudkan 'pencapaian hidup' saya...  Tapi mengapa terasa sangat sepi?

Bertahun-tahun saya memelihara rasa benci saya kepada biyotch. Banyak teman yang penasaran kenapa saya memelihara rasa sakit saya. Jawabannya, semua demi mempertahankan semangat dan api membara yang ada di dada saya selama 3 tahun ini. Sakit saya adalah amunisi saya yang memungkinkan raygava et al bisa sampai titik ini. (jangan-jangan ini juga alasan kenapa saya cenderung menghancurkan hubungan-hubungan yang saya punya. kalo kata temen saya, i was never in pain, therefore i've always created my pain)

Tapi sekarang. disaat misi sudah tercapai.. ingin sekali rasanya saya buang rasa sakit ini.. So, instead of enjoying 'being on top of the world', i'm left alone, holding this junk called 'hurt' in my hand, something i'm so desperate to thrash immediately.

Intinya,..
sangatlah susah menikmati sebuah kesuksesan besar dan pencapaian hidup yang begitu penting bila anda tidak memiliki seseorang untuk berbagi..
Dimana anda tidak memiliki siapa-siapa untuk mendengarkan cerita panjang anda akan betapa lega-nya diri anda, dan betapa bangga-nya anda terhadap diri anda sendiri..

Somehow sangat mirip dengan diri saya 7 tahun yang lalu, disaat saya mulai mendapatkan IP diatas 3 berturut2, heheh (maklum, sebelumnya 1 koma terus).. dan saya masih ingat apa yang saya tulis waktu itu....
"When you're flying so high ... sometimes it's just so lonely up here in the sky"

OUTRO : Hurry to the future !

Saya cuma lelah. Lelah setelah 3 tahun mengorbankan dari mulai tabungan, karir kerjaan, sampai kehidupan percintaan.. semua demi memberi jalan kepada album "Where I Belong" ini...

Sekarang hati saya sungguh kosong, sekosong kantong saya yang sudah tidak memiliki uang lagi.. saya cuma ingin fast forward ke masa depan.

Bertahun-tahun lamanya saya memimpikan ada mesin waktu, supaya saya bisa kembali ke masa lalu. Baru kali ini saya ingin mesin waktu itu untuk bisa bawa saya maju ke masa depan...
hurry to the future !!

Sunday, December 07, 2008

How I tried to be Superman.. and realised it was a stupid mistake !!

Seumur hidup rasanya "tanpa sadar" saya selalu berusaha menjadi superman.
Dan kayaknya itu adalah hal paling bodoh yang bisa dilakukan seorang manusia.

Mungkin gak seumur hidup sih, pasti itu berlebihan. hahaha.
Sejak kapan yah? hmmm mungkin sejak kebangkitan akademis gue di kampus.
Mungkin.
Oke mari gue paparkan elemen2 yg bikin gue ngomong kenapa gue 'tanpa-sadar' berusaha jadi Superman...
Tulisan ini sengaja gue buat untuk memberi 'warning' kepada orang-orang lain. Membukakan mata mereka sebelum semua terlambat... Sekali lagi mohon maaf kalo terlalu panjang. Gue masih punya masalah dalam menulis singkat tanpa contoh yg bertele-tele. hehhehe

Jadi ambil minuman hangat anda, duduk sebentar,.. dan mari saya bawa anda masuk ke kehidupan saya...


Part 01
Doktrin Masa Kecil : Hidup Harus Seimbang
Time Frame: (1986-1998)
Dari kecil gue selalu didoktrin oleh bokap gue bahwa hidup ini harus seimbang.
Orang pinter ga akan bisa kemana2. Tapi begitu juga anak2 nakal.
Yang akan berhasil adalah orang2 yang seimbang. Seimbang dalam hal akademis, olahraga, dan kesenian!

Inilah doktrin terbesar yang pernah masuk otak gue sepanjang hidup gue, dan tanpa sadar telah gue implementasikan selama entah berapa tahun.
Sports
Akhirnya dari kecil gue udah dibiasakan dg olahraga. Dari mulai Pencak Silat (yg gue ga menikmati sama sekali), sampe golf, tenis, basket, dan lain2nya..

Sampai akhirnya di SMP-SMA gue menemukan 'rumah' gue di baseball. Sempet jadi kapten tim U-17 juga. yahh mayan lahh for nobody like me.
Doktrin masa kecil tersebut membuat gue ga pernah jadi yang terhebat di olahraga manapun. Karena doktrin itu mengajarkan gue untuk diversifikasi skill, bukan fokus kepada satu skill. Tetapi gue cukup bangga karena gue yakin ga banyak orang yang bisa maen golf, tenis, bowling, baseball, basket, bola, billiard.. and whatever lah.. name any sports selain bela diri dan automotive, pasti gue bisa dan lumayan.
Anyway, akhirnya gue tercipta menjadi anak yg cinta olahraga. Walau gue udah lama meninggalkan baseball, gue masih cukup rutin maen tenis dan maen golf, dan masih lumayan dapet predikat 'jago', at least diantara temen2...Art
Sejak SD pun gue terkenal jago gambar. Juara 1 lomba gambar SD Al Ikhlas gue rebut, Bahkan dg bodohnya gue langsung pulang setelah acara selesai, dan baru tahu bahwa gue menang di hari senin-nya waktu masuk sekolah lagi... hehhe.
Dari SMP rajin bikin komik2 komedi yang lalu gue fotokopi dan gue jual untuk dapet uang jajan.
Lalu di SMA baru mulai merambah ke lukisan kanvas.
Di sekitar SMP-SMA, orangtua gue udah mulai panik dan mengasih peringatan supaya gue jgn sampe jadi seniman kalo besar nanti. Walhasil pelan-pelan kecintaan menggambar mulai gue tinggalkan (waktu itu skill gambar gue sebatas gue maintain karena gue dari SD udah tau bahwa nanti kuliah gue akan ambil kuliah arsitek). Dan mulai lah gue lebih fokus kepada bentuk seni yang lain, musik! :)
Music
Dari SMP pun gue mulai megang alat musik. Di perpisahan SMP mulai nge-band. Dan makin menjadi2 di masa SMA, dengan segudang pengalaman diatas panggung (termasuk di majalah2 macam Kawanku, hihihi :P).
Kembali lagi, sesuai doktrin, maka gue ga pernah jadi dewa gitar yang handal !! haha.. Tapi dari SMA, di band2 gue pun udah bisa maen gitar, bass, drum, keyboard, dan saksofon. Dan udah pernah memainkan seluruh alat musik itu di panggung2 festival sekolah pada waktu itu. Plus, dari SMA udah mulai bikin2 lagu dan gue rekam dengan iseng.. eh dari SMP sih tepatnya. hehe..

Jadi begitulah kira-kira kehidupan masa sekolah (SD-SMA) gue in general. Prestasi akademis sih oke-oke aja. Kadang bisa top ten, kadang bisa dapet peringkat buncit (seinget gue rekor gue ranking 37 deh dari 40 murid. hahhaa)...
Tapi begitulah. Yang penting, sesuai dengan doktrin yang gue anut waktu masa kecil, gue bisa menjaga untuk tetap ada aktivitas olahraga, tetap ada aktivitas seni.

Part 02
Kebangkitan Akademis si Rega
Time Frame: (1998 - 2003)
Dulu di awal2 masa kuliah di Unpar, IP gue selalu jeblok. 1.7 lah, 1.4 lah.. dll. Banyak alasannya, dari mulai benci Bandung lah, terlalu banyak maen2 lah, pemabuk berat lah. Memang banyak yang bilang Arsitek Unpar tuh pelit banget ngasih IP, semua orang pasti setuju. Tapi itu bukan alasan lah.

Akhirnya setelah 2 taun, baru lah terjadi kebangkitan. For the first time saat itu tiba2 si Rega mendapatkan IP 3.25 !!! hahahha! Rekor !!! sampe dipajang di majalah dinding jurusan arsitek!!.. Semua orang ga percaya, sampe banyak yg ngira yang ditempel adalah transkrip palsu! hahaha..

Dari situ, IP gue ga pernah menyentuh 3.00, selalu diatasnya. Bahkan sampai di semester terakhir dimana gue dapet IP 3.8 !! di arsitektur Unpar !! hellow??? seorang Rega yg brantakan kyk gini!!.. hehhe I was so proud of myself back then.

Waktu lulus, memang IPK gue gak nyampe 3.00.
Kalo diitung IPK gue sejak kebangkitan itu, mgkn bisa sekitar 3.5. Tapi dengan IP-IP di awal tahun yg langganan 1 koma itu.. yah akhirnya cuma mentok di 2.97 ! hehhehe.. tragis, karena super-nanggung. Tapi gue tahu posisi gue saat itu sangat tidak terbayangkan oleh diri gue waktu awal masuk kuliah (dulu gue pikir gue akan kuliah 6-7 taun dengan nilai2 gue yang jeblok).
Sangat sulit membayar kesalahan masa lalu. Inilah hikmah yg gue petik dari sini.
Tapi pengalaman gue 'ngebut' begitu membuat gue sadar kalo ternyata.. heyyy!!. gue gak bego !!!
Bertahun-tahun gue pikir gue orang malas dan bego. Ternyata malah sebaliknya!!.. Gue orang pintaaaarrrr !!!..

Part 03
Rega Manusia Ambisius
Time Frame: (2003- 2004)
Ambisi besar (bahwa "ternyata saya pintar") ini terbawa terus dalam usaha saya mencari sekolah buat s2 saya, maupun dalam kerjaan saya waktu itu.
Sekolah S2 yang biasa? iihhh ogah !..  Gak level deh.
Gue mau sekolah gue ranking dunia !. Waktu itu udah gue patok, at least ranking 40 dunia.
Dengan fokus sudah jelas untuk mengambil S2 di bidang Real Estate, akhirnya gue berhasil diterima di Cass Business School (ranking 2 se UK dan ranking 6 se Europe versi Financial Times 2004, kalo gak salah ranking 30an se dunia versi business Week 2004).. Itupun sebatas karena saya ditolak di MIT, dan Columbia ! hahahha... tolol yah? Rega? daftar MIT dan Columbia?.. Was he out of his mind???..Si Rega yang bego.. agak tolol? begajulan?... Tapi at least waktu itu gue mau buktiin kalo gue mungkin sebenernya punya kemampuan untuk compete di high level (altho' maybe not Ivy league level, hahaha)..

Kepercayaan diri gue saat itu membuat gue berubah cukup drastis menjadi manusia ambisius yang menjijikkan (yang sekarang alhamdulillah saya sudah tidak lagi). Saking ambisiusnya saya waktu itu punya rencana selepas kuliah utk bekerja di luar negeri bbrp tahun, lalu pindah negara untuk ambil MBA, kerja beberapa tahun lagi, lalu kembali ke Indo di sekitar umur 32-an dengan duit yang banyak!!.. Pikiran super kapitalis!.. Kemakmuran diri sendiri!

Being a complete person
Okay..
jadi pada saat-saat itu (di akhir masa kuliah, awal sebelum keberangkatan ke luar negeri) saya sudah tahu bahwa ternyata saya lumayan komplit.

Kebiasaan dari kecil utk selalu hidup seimbang, membuat gue gak pernah hebat dalam satu hal. Tapi selalu bisa dalam melakukan banyak hal. I have so many things to live for !.. dari mulai cewe-cewe, karir, sampe musik. (terdengar menjijikkan memang, tapi memang ini yang ada di kepala gue waktu itu)
Dari sini pun gue mulai temukan visi hidup gue: I WANT MY LIFE TO BE COMPLETE !!

Part 04
Leaving London : For something better !!!
Time Frame: (2005 - 2006)
Salah satu dilemma terbesar yang pernah gue hadapi dalam hidup gue yaitu waktu di tahun akhir 2005 dan awal 2006, dimana gue dihadapkan pada pilihan untuk terus berkarir di London atau pulang ke Indonesia selamanya.

Gak banyak mahasiswa Indo yang bisa dapet kerjaan (beneran office work, bukan kerjaan2 pelayan atau semacamnya) di London. Di tahun 2005 gue mulai bekerja di ISP, sebuah perusahaan kecil yang lalu menjadi anak perusahaan group Atkins. Bergerak di transport planning & urban planning. Pokoknya my dream job saat gue S1. Semua yang mereka lakukan di perusahaan ini adalah skripsi S1 gue dulu di Unpar. (Bahkan skripsi S1 gue lah yang bikin gue bisa diterima di perusahaan ini).

So there I was, with a 'dream job'. Masuk jam 8.30 pulang jam 6. Very-very normal. Loved the job so much. and I had one of the most peaceful 'working life' i could remember. Dimana gue ga susah untuk angkat pantat gue dari tmpt tidur dan brgkt naek bus ke kantor.
I had everything a man could ever wanted. Bbrp anak Indonesia lain juga pada ngiri kok, karena mereka bisa dapet kerjaan pun engga.. Sementara gue sudah dapet penghasilan gaji bulanan dalam pounds yang bisa mulai gue tabung.
Tapi entah kenapa.. there's something missing..
Dan selama berbulan-bulan gue mencoba menganalisa, ngobrol dg orang2, lalu sampe me-list down apa itu kira-kira yang membuat hidup di London menjadi tidak suitable dg my personal goals.
Mulailah muncul hal-hal yang gue tau gue gak bisa dapetin kalo kerja di London seperti ini... Money dan career isn't everything!!!
Pokoknya kalo dirangkumkan, maka diantaranya ada masalah cewe2, musik, maen golf, dan shalat jumat... terlalu kompleks utk dijelaskan disini.

Kembali ke visi hidup gue di awal.. yaitu I want my life to be complete !! Uang ga memberi gue kebahagiaan murni... Tapi ada hal-hal sepele yang bikin gue lebih bahagia, menurut gue saat itu. Silakan dengar lirik lagu "Where I Belong" untuk lebih jelasnya. follow the links from here: www.raygavaetal.com
I was 24. My life awaits me! (at least pada saat itu, hal itulah yg ada di kepala gue)..
Jadilah gue berargumen dg banyak org2 indo yg menjunjung karir di luar negeri.
Mereka selalu memarahi gue, katanya gue bodoh. Katanya justru karena gue masih muda, maka gue harus maksimalkan potensi di luar negeri.
Saat itu gue bilang. "Justru karena gue masih muda, gue harus pulang ke Indo dan maksimalkan potensi gue!... Kalo skrg umur gue 30 dan udah nikah, maybe I'd stay!"
Tahun 2006 awal, gue pulang ke Indonesia.. for good!

Nah disini lah... tanpa gue sadari.. gue berusaha menjadi Superman!..
I wanted it all !.. I want the world! I want my happiness! Tapi bukan impian-impian cetek seperti orang pada umumnya yg ingin jadi rockstar, cewe2 cantik, mobil mewah.. No NO.. never in my mind! Gue cuma ingin menjadi manusia dengan kehidupan yang komplit... Komplit = Bahagia !!
Di bagian berikut gue akan jelaskan sisi lain kebahagiaan, yaitu yang terkait dengan urusan wanita. hehe

Part 05
My Theory on Relationships
Time Frame: (Maybe from 2003 - 2007)
Oke akhirnya sampai juga ke bagian ini.

Gue tau gue sama sekali gak ganteng.
Tapi memang alhamdulillah dari SMA gue mulai menyadari bahwa gue ga begitu punya masalah untuk menarik lawan jenis. Tapi gue sama sekali bukan player. Engga lah. Gak ada bakat juga.
Gue selalu punya niat 'melihat dunia' dan belajar sebanyak2nya dari beragam wanita dengan sifat2nya mereka yg unik dan berbeda2.
Kesemuanya demi satu tujuan: yaitu supaya gue nanti kelak akan menjadi suami dan ayah yang baik, gak macem2.. Gak suka 'shopping around' dan gak akan bisa digoda oleh cewe manapun lagi kecuali istri gue tercinta.

Terdengar mulia kan? hehhee.. walau jalan kesana nya harus gue akui gue banyak melakukan hal-hal yang tidak mulia, dan berbuat jahat ke banyak orang. :(

Nah disinilah... Lagi2. tanpa gue sadari.. gue mencoba menjadi Superman.
Mencoba menjadi suami dan ayah yg komplit dg 'cara gue' yang menurut orang2 sih cukup radikal dan agak bodoh...

Sekarang memang misi gue udah cukup tercapai. Gue sudah mencapai titik lelah gue. Gue sudah puas dan sudah tahu gambaran kira2 apa yang saya inginkan dan saya harapkan ke depannya.

Tapi.. sekarang gue udah sadari, setelah melihat beragam2 temen gue yang pada menikah.. sampai yang udah punya anak kedua...
gue sadari kalo selama ini gue salah !!!

Dari mulai temen gue yang geek, yang pacaran baru sekali, yang dulu gak laku2, sampe yang memiliki kekurangan2 fisik, sampe yang super-player pun.. semua sudah menikah !
semua tampak bahagia!..
Gilaaak!.. orang2 yang dulu saat SMA disaat gue sibuk pacaran, boro2 ngerti ttg cewe.. skrg udah pada gendong anak2 mereka !!

Kenapa? Apa hikmahnya disini?
karena disaat gue sibuk mencoba menjadi 'hebat' dan 'berpengalaman', mereka cuma menjadi manusia biasa.. dan justru disitulah mereka menemukan kebahagiaannya sejati nya.

Lalu disaat seperti sekarang dimana gue udah tersadarkan, dan gue mencoba berubah dan meluruskan jalan hidup gue... For the first time in my life.. yes, I'm mentally ready for marriage!
mereka semua seolah2 melihat ke gue dan berkata "Kemana aja lo dari dulu Ga?"

Disaat mereka sibuk mencari calon istri yang kompatibel, gue malah masih sibuk berkelana dengan dalih "belajar tentang dunia".
Sekarang baru gue tersadarkan dan rasanya wajah gue ditampar habis2an.

Part 06
Kesimpulan dari tulisan gue kali ini:


Bertahun-tahun gue "tanpa sadar" berusaha menjadi Superman.
Gue ingin menjadi orang yg pintar, reputasi hebat dalam karir, tapi juga punya prestasi non-karir (dalam hal ini dg proyek raygava et al gue, dan tetep punya banyak aktivitas olahraga).. orang yang komplit !!!
Gue kelak ingin menjadi suami yang handal, ayah yang baik. super setia dan susah digoda wanita lain. (tapi dimulai dg cara melihat wanita sebanyak2nya)
Kehidupan bahagia yang komplit !!!

Semua awalnya dengan niat2 yang sangat baik.


Tapi gue lupa....
Karena untuk menjadi hebat, menjadi berprestasi, memiliki hidup yang colourful, semua punya expense tersendiri. ada hal2 yang harus dibayar. Kadang bahkan dibayar dengan mahal !!
Gue 'tanpa sadar' telah kehilangan orang2 yang gue sayangi dan menyayangi gue, kehilangan materi2 (uang2 yang dilarikan ke raygava et al), kehilangan waktu... etc.

Kalau dulu gue tidak berusaha menjadi 'hebat'.. mgkn gue sekarang gue sudah menikah!
Lalu di awal minggu gue akan kembali masuk ke kantor dengan kehidupan boring yang normal nya. lalu tabungan gue pun sudah banyak sekali hehhee.. udah punya mobil dan udah bisa cicil rumah. (karena mgkn 90% dari tabungan gue lari untuk raygava et al.) My god!.. semua begitu kontras! Semua baru jelas terlihat sekarang !! So many things I've missed.. Justru karena gue sibuk mencoba menciptakan kehidupan yang hebat dan penuh warna !!
Mungkin beberapa temen gue akan menganggap gue salah satu manusia paling komplit yang pernah mereka temui.. oke.. so maybe cita-cita gue lumayan tercapai..
Tapi pertanyaannya, apakah gue bahagia sekarang?... well, not necessarily..
Bangga mgkn iya. Tapi bahagia dan bangga ternyata adalah 2 hal yang berbeda jauh!!

Dalam seketika pula, seluruh teman-teman gue yang sederhana jalan hidupnya... tiba2 terlihat sebagai sosok-sosok manusia yang paling beruntung di dunia !! :)

jadi disinilah 'humble opinion' gue kepada siapapun yang membaca ini gak terkecuali:

jangan pernah lupa bahwa kita ini dilahirkan sebagai manusia.
Jadi mgkn ada baiknya bila tidak pernah berusaha menjadi superman.
Karena kita manusia lah, kita TIDAK diberkahi untuk memiliki semua nya !
Sekarang gue sadari, kebahagiaan-kebahagiaan yang ingin gue dapatkan... semua malah dimiliki oleh orang-orang yang menjalani hidup mereka selayaknya manusia. dengan segala keterbatasannya.. dengan segala kekurangannnya..
'the humble happiness of human being'
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Epilogue:
Gue tau di luar sana ada teman-teman gue yang cukup ngiri dengan diri gue.
Bagaimana gue sangat beruntung bisa seenaknya diterima kerja di tempat2 yang gue mau, dengan reputasi karir yang bagus di setiap tempat kerja yang pernah gue hinggapi.
Bagaimana gue bisa punya musik dan mau punya album sendiri..
Bagaimana gue punya kehidupan variatif dan selalu aja banyak ceritanya...
Well, ketahuilah.. semua ini memakan korban yang tidak sedikit.
Banyak orang, banyak kehidupan orang lain, bahkan termasuk kehidupan gue sendiri yang harus menjadi korbannya...

Padahal, sebenernya gue lah yang ngiri dengan orang-orang yang memiliki 'humble happiness'.. Karena ketahuilah, setelah gue berputar-putar selama bertahun-tahun, hal itu lah yang sebenernya gue impikan di hidup gue selama ini ! ;)

Don't try to be a superman ! ... Just live your life like a normal human being!