Pages

Saturday, October 15, 2005

London vs Indonesia (part 01)

Ini cuman imel gue kemaren2 ke orangtua gue. Dan belakangan ini gue lagi kebingungan. inipun udah lanjutan dari diskusi2 yg udah panjang sebelumnya. Tapi gue rasa banyak value2 disini yg bisa diambil oleh temen2. Karena asal tau aja.. gak banyak anak2 Indonesia yg memahami value2 ini. At least di London begitu. Dan gue cukup kecewa. Karena value2 yg akan gue sebutkan disini adalah hal2 yg cukup vital dalam hidup secara keseluruhan. Hidup bukan sebatas karir, duit, kawin, cewe.. dan hal2 cetek lainnya. Hidup jauh lebih dalam dari itu.

cheers,
Rega

____________________________________________________________________

Semua org bilang aku beruntung, krn byk bgt org2 yg ngebet kerja disini tapi gak dapet. Tapi yah justru itu dia.. aku mah gak pernah ngebet. Aku ngebetnya ngerjain something that's challenging, interesting, and fun. Something yg bikin bahagia. Kasian lihat anak2 muda jaman skrg.. mikirnya masih uang doang. Tapi gak pernah ngerti the true value of life. Pantes aja Indonesia dimaenin mulu ama org2 nya sendiri. Kalo org2 nya cuman lintah2 yg maunya cari benefit buat pribadi sih yah pasti iya.. Maksudnya.. kalo org2 standarnya mikir "ahhh kan udah bagus ga lo kerja disini. hidup enak. gaji pounds... pulang bisa bawa bbrp ribu pounds." Which is beberapa puluh atau ratus juta. Kok mikirnya cetek bgt yah org2?.. Kalo ditanya, "emangnya lo maunya kerja apa sih? lo sukanya bidang apa?"... jawabnya. "yahh apa aja lah, yg penting kerja di London." ..............pantes diisepin mulu duit Indonesia, kalo mental manusia indonesia masih kyk begini.. bukan ama org2 yg beli ijasah doang.. tapi ama lulusan2 luar negeri juga. ampuuunn. Mikirnya duit doang..

Org2 gak bisa mikir justru krn di indonesia begitu primitifnya, peluang2 bisa dibikin jadi banyak. Skrg dg ngeliatin kerjaan company ku ini aja aku udah dapet inspirasi nih buat di Indo. Org2 gak mikir.. walau di Indonesia gaji cuman 3 juta tapi bisa idup enak walau pelan2. Sementara disini pada hidup sengsara, nahan2 gak keluar duit. Yahhh sama aja kan tradeoffnya. Aku sih bukannya aku gak seneng tinggal dan kerja dsini.. Tapi aku orangnya cukup logis kalo soal urusan tradeoff. Wong aku bisa dibilang orang yg paling pelit di London.

Duit yah penting, tapi senyuman di muka sama seneng di hati juga gak boleh dilupain. Karena buat apa kita kerja mati2an supaya bisa senyum sebelum mati. Lah kalo bisa kerja tapi sambil senyum dari skrg.. apa bukan lebih baik?
temenku si Lina yg kerja jadi analyst di JLL research juga mulai gerah. Kerja di London emang gak menyenangkan. Dia skrg lagi bingung mendingan diterusin apa pulang aja ke greece.

Skrg Carl temenku org singapore aja ditawarin 5 kerjaan disini dia tolak semua dan dia malah balik ke singapur, kan ada alesannya. Iyah bener.. disini hidup mahal banget. Tradeoffnya bila dibandingkan dg dollar singapur yg 1/3nya emang jauh banget lebih beneficial di singapur... Orang2 tolol yg pada maksa. Skrg di Harry cerita companynya lagi ada proyek pembangkit listrik di Indonesia. Mendingan aku ke korea aja. ato engga stand by di jkt buat bantuin company nya.. hahhahaha.. kalo urusan Budaya kerja disini sih sama2 aja lah. Gak ada bedanya sama kantornya si Rama. hahahhaa..

that's why... i found... nothing special.

rega

Tuesday, August 02, 2005

The cynical narcissistic tendency

I am The Rega.. katanya dulu back in the 90s..
I do not play with you..
I do not hang out with you..
I do not even like you..
I do not care..
I care about me..
myself..
and my gang..
the cool gang..
not you and yours..
I dont know people..
People know me

Katanya gue sombong..
Hahhahhaa.. trus napa.. udah dari dulu kok..
Boys wish they could be like me...
So you.. stay away..stay clear..
because me...
I am...
The Raygava
I do not play with you..

Tuesday, May 31, 2005

Architect of Our Lives

Life.......is strange....
...if you really think about it...

we were given powers. The greatest power of all... to decide...
but then again,.... maybe we weren't.
We have the ability to form our own future. Shape our own life.  Decide what you want. Choose from different available options. Options that would lead us to different outcomes and different places. That's why I never believe in the word 'soul mate'. Because you can actually choose whom you want your soulmate to be. . . That's why I also don't fully trust the word 'fate'.. because as a human, I know we can design part of our destiny, we could work for our fate. . . think!... that's the reason God gave us the gift of brain. To be the architect of our lives...!!
But hey I don't know.... I'm just human.

Life.......is strange....
...if you really think about it...

Saturday, April 23, 2005

Where We Came From...

funny how a conversation with a stranger can change your views.
yolanda, someone i didnt even know, even far away in LA, have made me feel very lucky living my current life. Sometimes we forget how lucky we are. Sometimes we forget to look down.
Waktu gue tiba di London, gue melihat betapa banyaknya orang borju dan orang-orang kaya yg gue gak habis pikir. Gue pikir gue datang kesini sbg anak muda yg paling pelit, yg paling irit. Yes, i know keluarga gue mampu. Tapi gue gak pernah jadi anak borju, karena gue udah bertahun-tahun hidup sebagai anak kost yg sederhana di Bandung. Bahkan kadang di mata gue, temen-temen gue yg selalu di Jakarta sungguh terlihat sangat borju dengan ke-manja-an mereka, ketidak mampuan mereka untuk organise hidup sendiri, dan ketidak mampuan mereka untuk hidup sederhana. Tapi gue lupa, masih banyak orang-orang yg tidak seberuntung gue.
Gue kuliah s2, di negeri orang, dengan biaya orangtua, bisa hidup tanpa harus kerja part-time. How lucky can it get? Mungkin gue sebal, keki, dan kecewa dengan London: dengan harga-harganya yg mahal2, dengan policy2 yg begitu tidak supportive buat seseorang mendapatkan kerja disini, smentara pemandangan orang2 kaya yg hidup borju masih byk terlihat (bukan hanya org indo lho). Hey.. tapi saya ini mgkn juga anak borju. Hanya saja saya anak borju yg selalu berusaha tidak borju. But that's to me. Not to others. To others, I'm just plain ol' borju! Tergantung anda melihatnya dari arah mana.
My friends, they have to deal with tougher lives and struggles. Mereka ke luar negeri karena pendapatan di Indonesia sangat menyulitkan untuk survive. Gue inget pertama kali disadarkan oleh teman gue bung Paulus dan Kollin. Benar juga, gue kerja di Jkt, gue gak perlu bayar kost dan makan malam. Jadi gaji gue masih cukup untuk gue berhura-hura bersama temen2 di malam minggu, jalan2 sama cewe2, bahkan bisa nabung untuk rekaman 'Nafas Terakhir' gue (karena orangtua gue tinggal di jkarta, jadi hidup bisa terus numpang). Tapi buat yang gak bisa begitu, hidup di Jakarta sungguhlah berat.
Hari ini gue bersyukur, sekaligus merasa cukup bersalah, karena gue sangat beruntung. Gue anak orang kaya. Gue tau masih banyak skali yg jauh lebih kaya dari orangtua gue, cuman gue akan tetep ngomong ini, gue anak orang kaya!.. Masih banyak temen2 yg harus meninggalkan negeri tercinta nya, untuk sekedar menjadi pelayan, chef, bahkan porter, sebatas bisa kirim uang untuk menghidupi dan membanggakan keluarga mereka di Indonesia. and to be honest, I'm very very proud of you guys. I wish I could be like you, I wish I could struggle like u guys, I wish I am as tough as you.
Tapi tidak. Gue akui gue orang yang lemah. Hidup sudah terlalu baik buat gue sehingga gue lemah. Yolanda, orang yg gue pun gak kenal (dia sebatas me-reply email 'nasionalisme' gue yg rupanya disebar2 sama temen2 gue ke entah berapa milis2), terus meyakinkan gue betapa gue adalah anak borju, karena gue lebih beruntung bisa sekolah s2 dengan biaya orangtua. Dan lihatlah dia sekarang 6 taun berjuang di US, dari jadi pelayan sampai bekerja di bofa (Bank of America). Lihatlah teman2 saya Mas Wahyu dan temen2nya, yg akhirnya dengan bertahun2 bekerja di UK mereka bisa masak Ikan Balado yang nikmat bahkan bisa beli gitar.
Dulu gue suka menyalahkan orang-orang yg 'pergi'... karena gue menganggap mereka pengecut yang tidak cinta negaranya sendiri yang udah membesarkan mereka. Tapi bisa jadi gue salah,.. mereka 'pergi' bukan karena pilihan mereka. Dan bisa jadi sebenarnya mereka begitu cinta nya kepada Indonesia but they just have to do something abt their lives, just so they can return and enjoy the same happiness, one I've enjoyed all my life (if not, happier)... who are u to judge?
Jadi tulisan ini hanya sekedar mengingatkan, betapa beruntungnya anda. Masih banyak orang-orang yang bahkan untuk pergi 'mengadu nasib' di luar negeri saja gak bisa. Masih banyak orang-orang yang bahkan sama sekali gak punya pilihan. So, take a look around you, all the stuffs in your room, your clothes, your health, the food you ate just now, .... itu dari keringat orangtua kita.
we are blessed, my friends..
Just remember don't forget where u are.. and where you came from
 


Wednesday, March 30, 2005

Ada Apa Dengan Merah Putih?

Ada Apa dengan Merah Putih?

Bagaimana anda ingin menyikapi keadaan Indonesia yang makin lama makin kesian?.. Kondisi 1: Bencana alam disana sini.. sementara para politisi makin menggila dan malah mulai memasukkan orang2 partainya di dalam departemen2 pemerintah. Kalau anda berpikir bahwa jaman SBY skrg Indonesia semakin berusaha rapih... apakah benar begitu?.. Disaat dulu jaman Soeharto, semua kepentingan yahh cuman kepentingan yg itu2 aja.. kartel cina2 totok dg Soeharto dan antek2nya, Golkar, ABRI, korupsi yah cuman diatas.. skrg?.. panggung pemerintahan dan legislatif Indonesia menjadi perang para partai, bupati sampe kades2 pada nilep duit... Hmm... jadi mana yg lebih baik yah?

Namun, sebagai insan2 Indonesia di luar negeri, lalu bukan berarti harus menduga yang buruk-buruk terus dan terus mengurungkan niat untuk kembali ke Tanah Air. Kondisi 2: Kebanyakan anak2 Indonesia yg sudah merasakan hidup di luar, terutama di negara maju lalu kebingungan.. karena mereka merasa ilmu2 mereka tidak applicable di Indonesia. Sebagian merasa ilmu mereka gak bisa dipake karena sistem di Indo masih primitif, sebagian merasa enggan untuk kembali karena merasa situasi Indonesia makin tidak kondusif, dan sebagian merasa enggan untuk kembali karena sudah merasa 'keenakan' hidup di negara maju dg sistem yang super teratur.
Seperti teman2 arsitek yg merasa ilmu2 mereka gak bisa dipake di Indo karena teknologinya blum nyampe disana,.. lulusan2 MBA top 10 yg super2 langka pinternya, udah kena otak kapitalis dan bekerja keras untuk memperkaya diri dan memperkaya corporate2 besar dunia di negara2 maju, ketimbang kembali ke Indonesia.

Haruskah manusia2 pintar Indonesia terus berpikir buruk terhadap Indonesia sehingga enggan kembali?.. .. .. Jawabannya: Jangan dong!!..
Kalo otak udah terlalu ke doktrin kapitalis yahh jawabannya pasti pengennya di negara maju aja.. dan 'memajukan diri sendiri' semaksimal mungkin. ... Hidup di luar negeri mgkn memang enak.. di saat Indonesa menderita, kita tenang... di saat orang-orang panik gempa bumi, kita aman.. Nah berpikiran sperti ini, dalam konteks tertentu, sebenernya gak baik!

Kalo kita terus2an mikir kayak gitu.. akan tecipta di otak kita asumsi otomatis bahwa:
indonesia = trouble
luar negeri = tentram
Nah ini sebenernya kan gak bagus..Kita juga di sisi lain harus mikir bahwa di Indonesia:
  • para petani lagi nongkrong di warung sambil ngisep rokok2 kretek yg kadar nikotin dan tar nya sangat gile yg mereknya dah gak jelas apaan.. sambil minum kopi dan ngobrol2 ama temen2nya dengan santainya..
  • Si Ujang sedang naek kerata api Parahyangan dari Bandung ke Jakarta sambil ngeliat pemandangan jurang2 dan sawah2 yang begitu indahnya, sambil berkata dalam hati, "goddamnit!.. My country is so f@ck!n beautiful!"
  • Kang yusup penjual lontong kari di depan SMA 5 Bandung sedang menunggu bel keluar, sambil leha-leha ngerokok di bawah pohon.
  • Rony, seorang tour guide merangkap surfer amatir di Legian sedang duduk di sebuah kafe sambil minum jus segar bersama seorang bule cantik yg sedang berusaha mengajaknya untuk tidur bersama malam ini.
  • ......
Point yg gue maksud adalah:
Gak perlu manusia2 Indonesia berpikiran buruk terus akan Indonesia. Karena Indonesia itu sama sekali gak buruk!!!.. tergantung gimana ngeliatnya..
Seperti kata Cak Nun hari senin kemaren, kalo orang2 di Indonesia pada kaya semua, pinter semua, dan tertib semua.. yahh itu bukan Indonesia lagi.. jadi gak seru!..
Kalo otak2 kita semua udah kedoktrin sama kapitalisme dan demokrasi karya negara2 barat yahh terang aja kita semua jadi pengennya di negara2 maju. Tapi apakah kapitalisme dan demokrasi itu adalah hal yg paling cocok untuk Indonesia?.. apakah Indonesia harus maju dan super sukses spt negara2 lain??.. kenapa kita harus liat parameter2 yg diciptakan komunitas barat?.. kenapa kita gak buat parameter sendiri??..

Di saat perusahaan besar spt Goldman Sachs pun mencoba mempermainkan Indonesia di kasus penjualan tanker Pertamina, coba deh lo pikir2.... masih merasa bangga kah anda kerja di corporate2 besar dunia yg bermental rusak???

Inget satu hal... Korupsi bukan ciptaan orang Indonesia.. melainkan pada awalnya dibawa dan diperkenalkan sama Cina-cina yg pengen lancar bisnis dan investor2 asing bule yang pada pengen meraup untung sebesar2nya dengan memanfaatkan 'sifat baik' (generosity) yg merupakan sifat dasar manusia Indonesia..

So,.. masih bangga kalo lo berhasil kerja di perusahaan2 besar multinasional??..
Gue sih bangga engga... benci juga engga.. netral aja..
Dan sudah semestinya orang2 Indonesia berhenti mengagung2kan dunia barat. Karena kalo lo semua pikir2,... ngerokok Djarum Coklat di pinggir sawah pun bisa memberikan kedamaian yg jauh lebih besar ketimbang tinggal di penthouse besar di tengah2 Manhattan.

Kerja di sebuah perusahaan kecil di pinggiran Surabay mungkin masih lebih mulia ketimbang kerja sukses dengan duit banyak di corporate2 multinasional...

Sebenernya sih:.... Barusan Puma Tiro gue ini baru dateng.. dan gue sadar.. geblek lo ga!.. lo kan dah punya sepatu Adidas Rom putih dan merah... dan ini mah sama aja.... jadi Ada Apa sih dengan Merah Putih??